Otak kanan, Otak Perasaan

  • Sebenarnya yang biasa anda sebut-sebut dengan ‘otak’ itu adalah otak kiri. Inilah otak kognitif yaitu otak yang berfikir dan otak yang erat kaitannya dengan IQ serta otak menentukan 20 persen kesuksesan.
  • Sebenarnya yang anda sebut-sebut dengan ‘Hati’ itu (dalam kebanyakan kasus) adalah otak kanan. Inilah otak afektif yaitu otak yang merasa dan otak yang erat kaitannya dengan EQ serta otak yang menentukan 80 persen kesuksesan.
  • Otak bukanlah organ tubuh bernama hati atau jantung yang merasakan senang, inspired, antusias,pasrah, lega, sedih, marah, sakit hati, jatuh hati, cemburu, waswas dan jenis perasaan lainnya.
  • Jika merasa waswas maka otak akan memerintahkan jantung untuk berdebar-debar lebih kencang lagi. Menariknya lagi untuk setiap jenis perasaan maka otak memancarkan frekuensi tersendiri dan dapat diukur.
  • Sekiranya agama dan budaya menyebeut-nyebut ‘hati’ maka itu adalah kiasan. Bukan organ tubuh bernama hati atau jantung yang sesungguhnya.
  • Banyak sekali orang yang dioperasi dan diganti hatinya lalu  apa yang terjadi? Ternyata orang itu tidak meninggal dan tidak berubah sifatnya serta tidak berubah imannya.
  • Banyak sekali orang yang dioperasi dan dicangkok jantungnya lalu apa yang terjadi? Ternyata orang itu tidak meninggal dan tidak berubah sifatnya dan tidak berubah imannya.
  • Adakah orang yang dioperasi dan diganti otaknya? Andai itu benar-benar terjadi maka dapat dipastikan ia akan meninggal seketika. Rupanya untuk mengubah sifat dan iman seseorang cukup dengan ‘mencuci’ otaknya, Sampai disini Jelaslah sudah otaklah yang menentukan dan otaklah yang tak tergantikan.
  • Secara biologis jantung dan hati manusia tidak jauh berbeda denga kera dan mamalia mana pun. Tapi otak manusia jelas-jelas berbeda dengan kera dan mamalia mana pun.
  • Dilihat secara biologis otak itu adalah raja yang memerintah seluruh kerajaan tubuh dan termasuk memerintah hati dan jantung.
  • Ilmiah terbukti, God-Spot  yang identic dengan nurani dan suara hati itu berada di otak. Bukan di hati, bukan di jantung.
  • Bersujud adalah symbol kehambaan manusia terhadap  Yang Maha Kuasa. Karena Itulah, Yang Maha Kuasa memerintah manusia untuk mensujudkan kepalanya (baca:otak). Bukan hatinya, bukan pula jantungnya.
  • Yang Maha Kuasa menempatkan seluruh panca indera dekat dengan otak. Bukan hati, bukan pula jantungnya.
  • Sebuah kutipan berbunyi, “sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal daging, jika segumpal ini rusak maka rusak pula seluruh tubuh maka ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati. Lagi – lagi yang dimaksud hati disini adalah kiasan bukan yang sebenarnya. Karena yang dimaksud ‘hati’ disini adalah otak, termasuklah otak kanan.
  • Tidakkah orang itu waras atau tidak tergantung akalnya (baca: otak)?
  • Tidakkah orang itu mabuk atau tidak tergantung akalnya (baca:otak)?
  • Tidakkah orang itu jahat atau tidak tergantung nurani atau God-Spot-nya (baca: otak)?
  • Tidakkah orang itu diganjar pahala atau tidak tergantung nurani atau God-Spot-nya (baca:otak)?
  • Tidakkah orang itu diganjar surga atau tidak tergantung nurani atau God-Spot-nya (baca: otak)?
  • Tidakkah orang itu sehat atau tidak tergantung mindsetnya (baca:otak)?
  • Tidakkah orang itu bahagia atau tidak tergantung mindset-nya (baca:otak)
  • Tidakkah orang itu sukses atau tidak tergantung Mindset­-nya (baca: otak)?
  • Dan benarlah semuanya tergantung pada segumpal daging dan daging itu adalah otak. Jika ianya baik maka baiklah seluruh tubuh dan baiklah seluruh aspek kehidupan.

Berdasarkan respon pembaca, inilah paparan saya yang paling menggugah dan mengubah. Mereka mengaku betul-betul bersyukur karena telah diluruskan dari pemahaman selama ini bahwa ‘hati’ itu adalah jantung. (Sekedar tambahan, selain yang dimaksud otak, ‘hati’ juga dapat bermaksud jiwa dan ruh. Karena itulah pada beberapa kesempatan nabi menunjuk bagian dada saat menjelaskan ‘hati’.